Monday, 25 March 2013

AFC ASIAN CUP 2015 QUALIFIERS Indonesia 1 – 2 Arab Saudi

sesungguhnya yang terjadi adalah sesuatu yang klasik. kalah dengan tipe lawan yang sama, dengan cara yang sama dan dengan permainan yang sama. Setiap orang di republik ini mungkin berpikir ketika sudah terjadi penyatuan Tim Nasional maka semua pertandingan akan menjadi mudah. hal itu dirasa wajar mengingat setelah perhelatan Sea Games 2011 berakhir orang-orang membayangkan skuad baru  Tim Nasional yang lebih muda dan bertenaga dengan campuran pemain senior dan pemain yang lebih fresh yang tampil memukau di Sea Games 2011. tetapi harapan itu tak kunjung menjadi nyata selama lebih dari dua tahun akibat konflik di federasi.
perlahan harapan itu hampir tercapai setelah tertahan selama lebih dari dua tahun karena konflik internal federasi. 23 maret 2013 adalah hari harapan itu akan tercapai, setiap orang di republik ini mulai membayangkan starting eleven versi mereka sendiri, dan memang hampir semua orang menyusun pemain yang terdiri dari pemain eks Sea Games 2011, pemain naturalisasi dan pemain senior.

23 maret 2013
gelora Bung Karno mulai memerah tanda pertempuran akan segera dimulai. matahari perlahan tenggelam di ufuk barat, para fans sudah berada di kursinya masing-masing baik di stadion atau di depan TV, chant pnyemangat mulai terdengar dinyanyikan dan atmosphere mulai terasa, “selamat datang di neraka di mana kami memiliki para algojo baru” mungkin itu lah kata yang ingin mereka ucapkan kepada pemain Arab Saudi.
beberapa menit sebelum petandingan, starting eleven diumumkan. beberapa orang mulai bersuara, mencibir keputusan pelatih sementara Rahmad Darmawan, betapa tidak starting eleven yang diumumkan sangat berbeda dari harapan semua orang, starting eleven yang masih di dominasi nama-nama lama yang membuat Henry Mulyadi turun ke lapangan untuk mengajari para pemain cara mencetak gol
peluit ditiup oleh wasit yang berasal dari Korea Selatan, kedua tim masih berhati-hati. beberapa menit pertandingan berjalan, hal yang sungguh sangat biasa terhadi, Arab mulai mempercepat tempo permainan mereka, mengurung wilayah pertahan Indonesia sementara di Kubu Indonesia pemain mulai panik, koordinasi lini pertahanan mulai kacau dan para fan mulai tegang. Indonesia menggunakan formasi 4-5-1, dimana Boaz salossa bermain di belakang Van Dijk dibantu M.  Ridwan dan Ian Kabes di sisi sayap. dua gelandang semestinya menjadi kunci dari taktik hari ini mereka adalah Ponaryo Astaman dan Imanuel Wanggai, di belakang Hamka Hamzah, Igbonefo, Supardi, Dan zulkifli akan berjibaku menahan serangan udara Arab, sedangkan Kurnia Mega akan sangat sibuk malam ini.
itulah para pemain starting eleven yang membuat hampir semua orang menggerutu, mereka berpikir kenapa bukan Andik, Bustomi, Irfan, Zulham, Egy , Lilipaly, Robby, Kipuw, Taufik, Stevie atau Greg. sebagian lagi bersikap bijaksana dengan mengatakan mungkin pelatih yang paling tahu kondisi para pemainnya.
beberapa menit dibombardir Indonesia masih panik, sampai ketika tembakan spekulasi pemain arab dapat di tangkap dengan sempurna oleh Kurnia Mega yang langsung melakukan tendangan jauh mengirim umpan kepada kapten Boaz Salossa yang berdiri di depan kotak pinalti arab dan ditemani dua pemain arab. aku tak tahu kawan, apakah karena diarab jarang hujan tiba-tiba pemain yang mengcover Boas terjatuh dan bola tepat berada di kaki kirinya, ya kaki kirinya. Bola berada di kaki kiri Boas, sama dengan bola berada di kaki kiri Messi, atau kaki kiri Van Versie sama dengan senjata sudah siap untuk ditembakkan atau dengan kata lain bersiap lah bersorak, dan setela itu gelora Bung Karno pun bersorak.
setelah gol itu, permainan tidak berubah dan permainan Indonesia pun terpuruk, tak bisa berkembang dan hanya bisa membuang bola kedepan berharap Van Dijk dapat memenangkan duel udara dan memberikan bola kepada Boaz, Ridwan atau Kabes yang kemudian melakukan tusukan kedalam pertahanan Arab, tetapi starategi ini menjadi tidak berjalan ketika kedua sayap dapat dengan mudah dimatikan oleh pemain Arab. Kabes bermain cukup bagus, meskipun di awal permainan ia sempat tak berkembang, yang menjadi masalah di sini adalah Ridwan, dia bermain dengan cara yang menurutku sangat biasa, ketika bermain melawan tim yang levelnya berada di bawah Indonesia dia terlihat sangat biasa tapi ketika melawan tim yang sekelas atau bahkan lebih diatas Indonesia dia terlihat seperti orang sakit. dan dia adalah saalh satu pemain yang membuat fans menggerutu. malam ini dia mungkin sedang sakit keras, dia tak bisa mengontrol bola dengan baik, mendribel tidak dengan bijak, dan passingnya lebih memihak kepada Arab.
setelah beberapa menit pertandingan berjalan Arab mulai terbiasa dengan permainan ini, gelandang Indonesia yang seharusnya menjadi tukang jagal atau filter pertama terhadap serangan lawan bermain seperti saringan teh tua yang gampang di tembus, Ponaryo yang juga bertugas sebgai pengatur serangan tak dapat menjalankan tugasnya. dia terlihat bingung, Imanuel yang di awal mengikuti permainan Ponaryo mulai beraksi, dia sudah mulai bertarung, tetapi menjadi seperti seorang petarung tunggal di lini tengah, Ponaryo seperti tak punya semangat dan determinasi, dan itulah mengapa semua orang ingin Imanuel berduet dengan Bustomi.
Gol pertama Arab lahir dengan cara yang biasa crossing dari kiri disambut tandukan yang menghujam keras gawang Kurnia mega, kiper ini sebenarnya bermain sangat bagus, berulang kali menyelamatkan gawang tetapi dia tidak dibantu dengan pertahanan yang solid. Supardi tampak tidak terbiasa bermain di kiri, sedangakan Zulkifly tampak canggung bermain seperti Ridwan dan Ponaryo. Hamka bermain dengan baik beberapa kali berhasil melakukan intersep, Igbonefo terlihat panik dengan terus menerus membuang bola yang seharusnya bisa di berikan kepada teman yang lebih dekat. dua gol arab lahir dengan cara yang sama crossing dari kiri tempat supardi berjaga, disambut sunduluan dari pemain yang tak terkawal karena kurang koordinasi antara Hamka dan Igbonefo yang lebih menaruh perhatian pada bola.
pergantian pemain banyak terjadi di babak kedua, Irfan masuk menggantikan Ridwan kalau aku tak salah, semua orang berpikir dia akan bermain di belakang Van Dijk bergerak tanpa role, mencari bola dan mendistribusikannya kepada Van Dijk, Boaz atau Kabes dan Boaz akan lebih bermain melebar. tapi ternyata Irfan dipkasakan bermain sebagai sayap, dan apa yang dapat dia lakukan sebagai pemain sayap hanyalah meminta bola dan kehilangannya, serat menjegal pemain Arab yang berbuha kartu kuning. Greg masuk menggantikan Kabes, tetapi Irfan masih jadi pemain sayap. Dengan masuknya Greg terjadi sedikit perubahan, Arab mulai tertekan dan Indonesia mendapat momentum mengurung pertahanan Arab, hanya satu nama lagi yang menurut setip orang tepat untuk dimasukkan menggantikan Van dijk atau Boaz yang sudah mulai habis, kerena selalu bergerak sepanjang perandingan, nama itu adalah Andik. Greg di sisi kiri, Andik di sisi Kanan dan Irfan ditengah, dibelakang Van Dijk atau Boaz akan membuat Arab ngos-ngosan. sudah masuk menit 70 an tetapi Andik tak terlihat melakukan pemanasan, bebarapa saat kemudian mulai terdengar fans meneriakkan nama Andik, aku yang menoonton dari tv saja dapat mendengar suara itu dengan jelas, dan seharusnya Rahmad Darmawan juga mendengar dengan sangat jelas. sampai menit 80 pun tak ada tanda si Andik akan masuk, sementara penyerangan Indonesia terlihat kurang seimbang arena hanya bertumpu pada Greg dan Boaz yang bermain di sisi yang sama. Orang- orang mulai bertanya-tanya apakah RD akan memainkan Andik di sisa 5 menit waktu normal? karena itu pun sudah sangat terlambat. menit 88 terjadi pergantian pemain, Ponaryo keluar digantikan oleh Bustomi, ini adalah pergantian yang teraneh menurutku. jika tim kita sudah unggul wajar saja mengganti gelandang bertahan dengan gelandang bertahan, tapi saat ini kita sedang tertinggal dan ada kesempatan menyamakan kedudukan jika kau masukkan seoran pemain dengan karakter menyerang, dan pak pelatih jika kau ingin memasukkan Bustomi yang bisa mengatur tempo, menjadi breaker dan seorang yang bisa mengatur serangan kenapa kau tak masukkan saja dia di starting eleven atau saat istirahat babak pertama tadi, bukan setelah menit ke 88 sekan-akan kita yang sedang unggul 2-1 dan ingin mempertahankan keadaan.
pertandingan berakhir dengan skor yang sama seperti tahun 2007 lalu. semua orang bingung kenapa RD tak memainkan Andik dan memasukkan Bustomi yang memiliki karakter bertahan pada saat ketinggalan. topik ini kemudian menjadi headline di beberapa media online. dan RD menjawab karena masalah fisik sehingga ia tak memainkan Andik, penonton pun bingung, bukankah Andik bukan seorang penyerang tengah atau bek tenga yang harus punya badan kekar dan tinggi? karena kelebihan Andik ada pada kecepatan.

No comments:

Post a Comment